Menapak Langit dari Cikini

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, berjalan kaki menuju Planetarium memberi pengalaman yang berbeda.

Admin
2 Min Read

Walking Indonesia – Pagi di Cikini selalu mengundang orang berjalan kaki. Dari Stasiun Cikini, trotoar yang teduh mengantar langkah menuju Taman Ismail Marzuki (TIM). Hanya sekitar sepuluh menit berjalan, kubah putih Planetarium Jakarta mulai tampak di antara pepohonan dan bangunan seni.

Perjalanan singkat itu tak hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga membawa pejalan kaki mendekati salah satu bangunan cagar budaya yang menjadi penanda perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia.

Planetarium Jakarta bukan sekadar gedung berkubah. Gagasan pembangunannya lahir pada masa Presiden Soekarno dan kemudian diwujudkan pada era Gubernur Ali Sadikin.

Sejak diresmikan pada akhir 1960-an, bangunan ini menjadi planetarium pertama di Indonesia sekaligus salah satu yang tertua di Asia Tenggara. Kubahnya yang berdiamater sekitar 22 meter menaungi teater astronomi berkapasitas sekitar 300 penonton.

Di dalamnya, pengunjung diajak “menjelajah” tata surya, gugusan bintang, galaksi, hingga berbagai fenomena langit melalui proyeksi digital di langit-langit kubah. Di area sekitarnya juga terdapat ruang pamer astronomi, panel edukasi, dan koleksi yang mengenalkan sejarah pengamatan benda langit.

Kawasan Taman Ismail Marzuki sendiri membentang di lahan sekitar sembilan hektare. Berjalan kaki di dalamnya terasa seperti berpindah dari satu ruang kebudayaan ke ruang lainnya. Selain Planetarium, terdapat Graha Bhakti Budaya, Galeri Emiria Soenassa, galeri seni, perpustakaan modern, plaza terbuka, hingga pusat dokumentasi sastra. Dalam satu kawasan, olahraga ringan berpadu dengan wisata seni, sejarah, dan sains.

Akses menuju Planetarium termasuk yang paling mudah di Jakarta. Pengguna KRL cukup turun di Stasiun Cikini lalu berjalan kaki. Pengguna TransJakarta dapat turun di Halte Taman Ismail Marzuki, sedangkan pengguna MRT dapat berhenti di Dukuh Atas atau Setiabudi dan melanjutkan perjalanan dengan TransJakarta maupun angkutan pengumpan. JakLingko juga melayani rute yang berhenti tepat di depan kawasan TIM.

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, berjalan kaki menuju Planetarium memberi pengalaman yang berbeda. Langkah demi langkah bukan hanya membakar kalori, melainkan juga membuka ruang untuk mengenali warisan budaya, menikmati arsitektur kota, lalu menengadah ke langit—mengingatkan bahwa rasa ingin tahu manusia selalu dimulai dari keberanian untuk melangkah.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *