Walking Indonesia – Jalan Tunjungan tak pernah benar-benar diam. Di balik deretan bangunan kolonial yang masih bertahan, jalan ini menyimpan gema masa lalu yang tak sepenuhnya hilang.
Setiap langkah seolah mengajak kita kembali ke Surabaya pada hari-hari paling menentukan menjelang dan sesudah Pertempuran 10 November 1945—ketika pekik “Merdeka!” bersahut-sahutan, dentuman senjata memecah udara, dan arek-arek Suroboyo mempertaruhkan nyawa demi sebuah republik yang baru lahir.

Kini, Tunjungan menjelma menjadi kawasan pedestrian yang ramah bagi pejalan kaki. Orang datang untuk menikmati arsitektur, berburu kuliner, atau sekadar mengabadikan sudut-sudut kota yang fotogenik. Namun, di balik wajah barunya, sejarah tetap berdenyut.
Berjalan di Tunjungan bukan hanya menyehatkan tubuh, melainkan juga merawat ingatan bahwa kemerdekaan tidak diwariskan begitu saja. Ia diperjuangkan, setapak demi setapak, dengan keberanian yang tak ternilai.
Mungkin itulah makna sesungguhnya berjalan di Tunjungan: bukan sekadar berpindah tempat, tetapi menelusuri sejarah, selangkah demi selangkah.