Jalan Kaki Menyusuri Kota Lama Surabaya, Menapak Jejak Sejarah di Jembatan Merah

Hari ini, Kota Lama Surabaya bukan sekadar kawasan wisata. Ia adalah ruang terbuka yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Admin
3 Min Read

Walking Indonesia – Kawasan Kota Lama Surabaya kini menjadi salah satu destinasi favorit untuk wisata jalan kaki.

Berpusat di sekitar Jembatan Merah dan Jalan Rajawali, kawasan ini menawarkan pengalaman menyusuri lorong sejarah di antara deretan bangunan bergaya Eropa yang masih berdiri kokoh sejak era kolonial.

Revitalisasi yang dilakukan Pemerintah Kota Surabaya menjadikan kawasan heritage ini lebih ramah bagi pejalan kaki, lengkap dengan jalur pedestrian, pencahayaan artistik, ruang publik, hingga pertunjukan kendaraan klasik pada waktu-waktu tertentu, termasuk mobil-mobil kuno peninggalan era Belanda dan jeep lawas yang memperkuat nuansa tempo dulu.

Kawasan yang membentang dari sekitar Jembatan Merah, Jalan Rajawali, Kalimas Barat hingga Kembang Jepun ini merupakan pusat perdagangan dan pemerintahan Surabaya pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Di sini masih berdiri sejumlah bangunan cagar budaya bergaya neoklasik dan art deco, seperti Gedung Internatio, bekas kantor-kantor dagang, gudang, bank, hingga pertokoan tua yang menjadi saksi perkembangan Surabaya sebagai kota pelabuhan terbesar di Hindia Belanda.

Jejak sejarah Pertempuran 10 November 1945 pun melekat kuat di kawasan ini, terutama di sekitar Jembatan Merah yang menjadi salah satu titik perlawanan arek-arek Suroboyo.

Selain menikmati arsitektur Eropa, pengunjung dapat berfoto di depan bangunan-bangunan bersejarah, menyusuri tepian Kalimas, menikmati pertunjukan seni, hingga menjajal paket wisata heritage menggunakan kendaraan klasik yang disiapkan pemerintah kota pada momen-momen tertentu.

Kawasan ini juga terhubung dengan zona Pecinan dan Kampung Arab, sehingga wisatawan dapat melanjutkan perjalanan menikmati kekayaan budaya Surabaya dalam satu lintasan.

Akses menuju Kota Lama relatif mudah. Dari Stasiun Surabaya Kota hanya berjarak sekitar lima menit berjalan kaki. Dari Stasiun Pasar Turi dapat ditempuh sekitar 10–15 menit berkendara, sedangkan dari Bandara Internasional Juanda sekitar 45–60 menit melalui jalan tol, tergantung kondisi lalu lintas.

Kawasan ini juga dapat dijangkau dengan angkutan umum, taksi daring, maupun kendaraan pribadi.

Hari ini, Kota Lama bukan sekadar kawasan wisata. Ia adalah ruang terbuka yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Berjalan kaki di antara bangunan-bangunan tua itu membuat sejarah terasa lebih dekat—seolah setiap langkah membawa kita kembali ke Surabaya yang pernah menjadi panggung perdagangan dunia sekaligus medan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *