Mendaki tanpa Akhir

Ariyanto
5 Min Read
Ariyanto

Gunung Kerinci, 3.805 meter di atas permukaan laut, gunung berapi tertinggi di Indonesia, biasanya jadi ruang sunyi bagi para pendaki yang ingin merenung di ketinggian. Namun, pada suatu pendakian bersama jajaran Kementerian Kehutanan, jalur itu berubah menjadi ruang rapat bergerak penuh canda, namun tetap reflektif dan bermakna.

Dirjen Penegakan Hukum, Dwi Januanto Nugroho, tampil sebagai motor rombongan. Ia menyalakan tawa sejak pos pertama. Setiap kali berhenti, kamera diangkat, barisan dirapikan, lalu jepret. Tapi foto itu bukan sekadar dokumentasi.

“Nanti kita lihat di foto, mana yang berkurang di setiap pos. Saya bawa printer, nanti sampai puncak kita print,” candanya, yang disambut gelak tawa.

Di belakangnya, Tim Kemenhut lain ikut mendaki: Sesdit Gakkum Lukita Awang, Kepala Balai Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) Haidir, Kepala Bidang PTN Wilayah I Jambi Muhammad Zainuddin @mhdz179, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi Agung Nugroho, Kepala BKSDA Sumbar Hartono, dan Kepala Taman Nasional Siberut Agung Widodo. Ada juga SPORC Brigade Harimau Jambi, Polhut, dan Manggala Agni Daops Sarolangun @manggala_agni_sarolangun dan BASARNAS Sungai Penuh.

Namun pendakian ini bukan sekadar ekspedisi seremonial. Sejak langkah pertama, ia diniatkan sebagai patroli kawasan hutan. Menyusuri jalur yang sehari-hari juga dilewati satwa liar, memastikan bentang Taman Nasional Kerinci Seblat tetap terjaga dari perambahan dan ancaman perburuan.

Sesekali, rombongan disambut kehidupan liar. Ada seekor tupai melompat lincah di dahan, suara burung rangkong menggema dari kejauhan, sementara serangga hutan bersuara tak henti seolah memberi irama pada perjalanan. Alam seperti ikut memberi salam pada patroli para rimbawan ini.

Di jalur berhutan rapat, Pak Anto, begitu biasa saya menyapanya, tiba-tiba berhenti. “Pohon apa ini?” tanyanya, seolah dosen yang memberi kuis dadakan.

Para rimbawan mengerutkan kening. Kadang jawaban benar, kadang meleset, tapi justru di situlah letak kegembiraannya.

Di tengah kuis itu Kepala Taman Nasional Siberut Agung nyeletuk. “Jangan remehkan modal dengkul. Dengkul ternyata modal utama mendaki dan paling berat,” candanya yang baru menyatu dengan rombongan di depannya.

Kalimat yang diucapkan sambil menghela napas itu membuat banyak yang tersenyum getir, sambil meraba lututnya masing-masing.

Rombongan juga bertemu dengan pendaki umum. Salah satunya seorang perempuan muda yang tiba-tiba melontarkan gombalan ketika enggan diajak rehat sejenak bareng-bareng di bawah pohon besar.

“Saya kan Mdpl,” kata perempuan pendaki itu.

“Apa tuh artinya?” tanya salah satu rombongan kami.

“Mendaki dengan penuh luka,” jawab perempuan itu.

“Oh, saya kira mencintaimu di atas permukaan laut,” celetuk salah seorang dari kami.

“Udah ya, mau cari kabut, karena selama ini cuman dijadiin teman gabut,” perempuan pendaki itu ngeloyor pergi.

Tawa pecah, menyalip dingin udara pegunungan dan menyelinap di antara kabut.

Namun canda tidak melupakan pesan serius. Di setiap kesempatan, Dirjen Gakkum mengingatkan para pendaki lain: jangan membuang sampah sembarangan, bawa turun kembali sampahnya, dan jangan berfoto terlalu dekat dengan kawah. Sebab menjaga hutan dan gunung bukan hanya tugas rimbawan, melainkan tanggung jawab semua yang menginjakkan kaki di sana.

Begitulah perjalanan menuju puncak Kerinci kali itu. Sebuah pendakian yang mencatat banyak hal. Mulai absensi tak biasa, kuis flora mendadak, filosofi lutut, gombalan ketinggian, hingga pesan kecil tentang etika menjaga alam.

Di balik gurau dan tawa, gunung berapi tertinggi di Indonesia ini menghadirkan pesan lebih dalam. Bahwa mendaki bukan sekadar uji fisik, melainkan latihan jiwa. Tentang ketangguhan saat jalur menanjak tanpa kompromi, tentang militansi menembus kabut dan hujan tanpa kehilangan arah, tentang tanggung jawab mengawal rombongan hingga semua kembali utuh, dan tentang cinta yang tak bisa dilepaskan dari profesi seorang rimbawan.

Seperti semboyan rimbawan yang diwariskan sejak dulu: “Hutan adalah napas kehidupan, siapa menjaga hutan sesungguhnya menjaga masa depan bangsa.”

Dan mungkin, di situlah letak simboliknya. Puncak Kerinci bukan hanya atap Indonesia, melainkan cermin dari puncak pengabdian seorang rimbawan. Bahwa untuk sampai ke sana, butuh dengkul kuat, hati ikhlas, dan cinta yang tak pernah surut kepada hutan. Sebab menjaga hutan, sejatinya, adalah mendaki tanpa akhir. Sebuah pendakian panjang demi kehidupan. (*)

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *