Walking Indonesia – Kebakaran hutan dan lahan melanda sejumlah kawasan gunung di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Selain Gunung Lawu, kebakaran dilaporkan terjadi di kawasan Gunung Bromo, Semeru, Arjuno-Welirang, Ringgit-Pusung Lingker, Argopuro, dan Sumbing.
Kebakaran tersebut mengancam kawasan hutan dan vegetasi pegunungan. Upaya pemadaman di sejumlah lokasi terkendala medan terjal, akses yang sulit dijangkau, serta angin yang berpotensi memicu penyebaran api.
Di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, kebakaran bahkan menimbulkan korban jiwa. Bupati Probolinggo Muhammad Haris mengatakan empat orang meninggal dunia saat penanganan kebakaran, yakni tiga petugas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Sukaris, Wisnu Yuda Pratama, dan Hendra Rony Wagiyanata, pekerja hotel Artotel Bromo, Sefriel Ardiansyah, serta Munawi, warga Desa Ngadi Rejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
“Tiga korban meninggal dunia di lokasi kejadian saat memadamkan kebakaran dan satu korban meninggal saat dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tongas,” kata Haris, dikutip Kantor Berita Antara, Jumat, 16 Oktober.
Merujuk kepada update berita terkini, Munawi dikabarkan sempat menjalani perawatan intensif untuk luka bakar serius yang dialaminya bersama satu orang lainnya di RSUD dr Soetomo, Surabaya, sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhirnya pada 19 oktober 2026.
Sebelumnya, kebakaran juga dilaporkan terjadi di Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, pada Rabu, 26 Agustus. Berdasarkan keterangan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), titik api antara lain ditemukan di Blok Ranukembang,
Desa Ranupane, Kecamatan Senduro, termasuk kawasan Pos 1 jalur pendakian. Kebakaran juga dilaporkan di wilayah barat Ranu Kumbolo, Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.
Api Menjalar di Kawasan Pegunungan
Kebakaran hutan dan lahan juga melanda kawasan Gunung Arjuno-Welirang sejak Kamis, 3 September 2026. BNPB melaporkan titik api di sejumlah lokasi, termasuk Blok Gumandar pada ketinggian sekitar 2.100 meter di atas permukaan laut (mdpl), wilayah Kecamatan Prigen. Kebakaran tersebut mencakup kawasan Taman Hutan Raya Raden Soerjo.
Di Kabupaten Probolinggo, kebakaran masih terjadi di kawasan Gunung Ringgit, Desa Ngadas, dan Pusung Lingker, Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief, mengatakan medan yang terjal dan sulit dijangkau menjadi kendala utama pemadaman. Angin juga berpotensi membuat api kembali menyala dan meluas ke vegetasi di sekitarnya, seperti ilalang, kaliandra, rumput kering, akasia, dan cemara gunung.
“Saat ini masih terdapat titik api di kedua lokasi, sementara kondisi medan yang terjal dan sulit dijangkau menjadi kendala dalam proses pemadaman,” ujar Oemar, dikutip dari laman Pemerintah Kabupaten Probolinggo.
Sementara itu, kebakaran melanda Pegunungan Hyang Argopuro di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, sejak Rabu, 14 Oktober, sekitar pukul 23.00 WIB.
BPBD Bondowoso melaporkan kebakaran terjadi antara lain di Petak 39 D, Dusun Barat Gunung, Desa Tanahwulan, Kecamatan Maesan. Pemantauan untuk mengantisipasi penjalaran api ke permukiman menghadapi kendala berupa medan terjal dan keterbatasan jaringan komunikasi.
“Kondisi tersebut menyulitkan petugas untuk menjangkau titik kebakaran secara langsung,” kata Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso Kristianto Putro Prasojo, dikutip RRI, Jumat, 16 Oktober.
Kebakaran juga terdeteksi di kawasan hutan Gunung Sumbing, tepatnya di wilayah Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Temanggung, Perum Perhutani.
BPBD Kabupaten Temanggung menyebutkan, api diketahui pada Kamis, 15 Oktober, setelah warga melihat titik kebakaran di wilayah BKPH Magelang yang mendekati kawasan BKPH Temanggung.
Menjaga Gunung, Menjaga Kehidupan
Rentetan kebakaran tersebut menjadi pengingat bahwa gunung bukan sekadar tujuan pendakian atau lanskap untuk dinikmati. Kawasan pegunungan merupakan rumah bagi beragam kehidupan, penyangga ekosistem, dan bagian penting dari keseimbangan alam.
Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pepohonan, melainkan juga habitat satwa, sumber air, dan ruang hidup yang membutuhkan waktu panjang untuk pulih.
Sebab, menjaga gunung tetap hijau bukan sekadar menyelamatkan keindahan alam hari ini, melainkan memastikan kehidupan masih memiliki tempat untuk tumbuh esok hari.
