Belajar Berdiri Lagi dari Anak Krakatau

Ariyanto
7 Min Read
Ariyanto

Mesin perahu kayu meraung-raung menghadapi ombak ketika langit masih pekat. Dinihari di laut Selat Sunda tidak memberi banyak pilihan selain percaya kepada nakhoda, kepada mesin, dan tentu saja terutama kepada Allah yang Maha Pengatur seluruh alam ini.

Perahu berguncang dihantam gelombang. Tubuh ikut terayun ke kanan dan ke kiri. Sesekali haluan terangkat tinggi, lalu jatuh menghantam permukaan laut.

“Kuat-kuat, Pak. Gelombangnya lumayan,” kata seorang penumpang sambil berpegangan pada sisi perahu.

Tujuan perjalanan bukan sekadar mengejar matahari terbit. Ada satu gunung yang hendak didatangi: Anak Krakatau.

Malam sebelumnya kami menginap di Pulau Sebesi, pulau berpenghuni yang berada di kawasan Selat Sunda dan menjadi salah satu titik terdekat untuk menuju Anak Krakatau. Dari Sebesi, perjalanan dilanjutkan sebelum matahari muncul. Harapannya sederhana: tiba di sekitar Anak Krakatau ketika ufuk mulai berubah warna.

Tetapi laut dinihari punya cara sendiri untuk menguji manusia.

Gelombang semakin besar. Perahu kayu terus menembus gelap. Tidak banyak percakapan. Sebagian penumpang muntah-muntah. Sebagian memilih diam. Sebagian lain mulai berzikir.

“Subhanallah… Allahu Akbar…”

Doa-doa pelan terdengar di antara suara mesin dan hempasan ombak.

Dari punggung Anak Krakatau kita bisa menyaksikan Gunung Krakatau yang kokoh berdiri di tengah perairan Selat Sunda. Foto: ariyanto/walkingindonesia.com
Dari punggung Anak Krakatau kita bisa menyaksikan Gunung Krakatau yang kokoh berdiri di tengah perairan Selat Sunda. Foto: ariyanto/walkingindonesia.com

Tak ada yang tahu persis apa yang menunggu beberapa mil di depan. Laut terlalu luas untuk ditebak. Langit terlalu gelap untuk memastikan arah. Pada saat seperti itu, manusia tiba-tiba sadar bahwa kemampuan dirinya terbatas.

Yang bisa dilakukan adalah berdoa, berikhtiar, kemudian berserah.

Perlahan langit mulai memucat.

Garis cahaya muncul di ufuk. Laut yang semula hitam berubah menjadi biru keabu-abuan. Matahari sebentar lagi terbit.

Dan di kejauhan, siluet Anak Krakatau mulai terlihat.

“Sudah kelihatan,” ujar seseorang.

Semua mata mengarah ke satu titik.

Gunung itu berdiri di tengah laut.

Anak Krakatau bukan gunung biasa. Ia adalah bagian dari sejarah geologi yang luar biasa. Setelah letusan besar Krakatau pada 1883 menghancurkan sebagian besar tubuh gunung dan memicu tsunami dahsyat, aktivitas vulkanik terus berlangsung. Dari kawasan kaldera itulah sebuah gunung baru perlahan tumbuh: Anak Krakatau.

Ia lahir dari letusan.

Ia tumbuh dari material yang dimuntahkan bumi.

Ia terus berubah.

Bahkan tubuhnya pernah runtuh.

Pada Desember 2018, sebagian tubuh Anak Krakatau longsor ke laut setelah erupsi. Runtuhan itu memicu tsunami Selat Sunda yang menelan banyak korban. Bentuk gunung pun berubah drastis.

Namun aktivitas vulkaniknya tidak berhenti.

Anak Krakatau kembali tumbuh.

Kembali menyemburkan material.

Kembali membangun tubuhnya.

Dari dasar laut, gunung api itu seperti sedang mengulang sebuah pelajaran yang tidak pernah selesai: runtuh bukan berarti berakhir.

Ketika perahu mendekat, suasana berubah.

Tidak ada lagi hiruk-pikuk kota. Tidak ada gedung tinggi, kendaraan, papan reklame, atau suara klakson.

Yang terlihat hanya laut, langit, pasir, batuan vulkanik, dan gunung.

Asap tipis kadang tampak keluar dari kawah. Warna tubuh gunung didominasi hitam dan abu-abu. Di beberapa bagian, tumbuhan mulai mencoba mengambil ruang. Di tempat lain, batuan vulkanik masih tampak seperti baru saja dikeluarkan dari perut bumi.

Kami turun dengan hati-hati.

Pasir terasa hangat di beberapa bagian.

“Rasanya seperti berada di bumi yang baru lahir,” kata seorang teman.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi semakin berjalan, semakin terasa maknanya.

Anak Krakatau adalah gunung yang masih muda. Ia belum selesai menjadi dirinya sendiri.

Ia masih membangun tubuh.

Masih berubah.

Masih tumbuh.

Dan mungkin karena itulah mendaki Anak Krakatau terasa berbeda dari mendaki gunung pada umumnya. Di sini, yang sedang disaksikan bukan sekadar puncak.

Yang sedang disaksikan adalah proses.

Gunung yang terus dibentuk oleh kekuatan bumi.

Tubuh yang bisa runtuh.

Lereng yang bisa hilang.

Material yang kembali dikeluarkan.

Daratan yang kembali muncul.

Kemudian kehidupan perlahan datang lagi.

Di tengah perjalanan, percakapan tentang pendakian berubah menjadi percakapan tentang kehidupan.

“Kalau dipikir-pikir, manusia juga begitu ya,” kata seorang teman.

“Bagaimana?”

“Jatuh, bangkit. Jatuh lagi, bangkit lagi.”

Kami tertawa kecil.

Tapi setelah melihat Anak Krakatau lebih lama, kalimat itu tidak lagi terdengar seperti gurauan.

Ada sesuatu yang dalam di sana.

Allah berfirman dalam QS Shad ayat 29 bahwa Alquran diturunkan sebagai kitab yang penuh berkah agar manusia mentadabburi ayat-ayatnya dan mengambil pelajaran.

Ayat-ayat Allah ternyata tidak hanya berada di halaman mushaf.

Gunung adalah ayat.

Laut adalah ayat.

Langit adalah ayat.

Letusan gunung api adalah ayat.

Dan perubahan Anak Krakatau adalah salah satu ayat kauniyah yang mengajak manusia berpikir tentang kehidupan.

Gunung itu mengajarkan bahwa tidak ada bentuk yang benar-benar permanen.

Yang tampak kokoh bisa runtuh.

Yang tenggelam bisa muncul kembali.

Yang hancur bisa tumbuh lagi.

Yang terlihat selesai ternyata masih memiliki perjalanan panjang.

Tetapi tentu saja, manusia bukan gunung. Kebangkitan manusia tidak berarti mengabaikan luka, kegagalan, atau kenyataan. Pelajaran yang dapat diambil adalah semangat untuk terus berikhtiar setelah mengalami keruntuhan.

Jatuh bukan alasan untuk berhenti.

Gagal bukan tanda bahwa perjalanan selesai.

Hancur bukan berarti tidak bisa menyusun kembali kehidupan.

Seperti Anak Krakatau yang terus berproses membangun tubuhnya dari aktivitas bumi, manusia pun harus terus berusaha membangun dirinya dari pengalaman.

Jatuh, bangkit. Jatuh lagi, bangkit lagi. Jatuh lagi, bangkit lagi.

Bukan karena hidup selalu mudah.

Melainkan karena selalu ada alasan untuk melanjutkan ikhtiar dan mengambil pelajaran.

Perahu akhirnya kembali bergerak meninggalkan Anak Krakatau. Matahari sudah meninggi. Gunung itu perlahan mengecil di kejauhan.

Di atas laut, terlintas kembali QS Shad ayat 29: membaca ayat Allah bukan sekadar dengan mata, tetapi dengan akal dan hati.

Krakatau dan Anak Krakatau adalah ayat-ayat kauniyah.

Ia tidak berbicara dengan kata-kata, tetapi dengan letusan, kehancuran, pertumbuhan, dan kebangkitan.

Dan barangkali, salah satu pelajaran paling berharga yang dibawanya adalah ini:

Dalam kehidupan, boleh jatuh. Boleh hancur. Tetapi jangan berhenti bangkit. Jatuh, bangkit. Jatuh lagi, bangkit lagi. Karena selama Allah masih memberi kesempatan untuk melangkah, selalu ada jalan untuk menjulang kembali. (*)

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *