Walking Indonesia – Biasanya kami hanya berjalan mengitari tepian waduk. Menikmati matahari tenggelam sambil memandang hamparan air yang memantulkan langit. Namun kemarau panjang mengubah semuanya. Air menghilang, menyisakan dasar waduk yang retak-retak. Tempat yang selama ini hanya bisa dipandangi dari kejauhan, kini bisa disusuri dengan langkah kaki.
“Yuk, kita jalan sampai ke tengah,” kataku.
Tanpa pikir panjang, anak-anak berlari lebih dulu. Kami pun memulai perjalanan kecil itu, berjalan kaki menyusuri dasar waduk yang mengering. Tak ada jalur setapak, tak ada papan penunjuk arah. Yang ada hanya tanah pecah-pecah seperti mozaik raksasa, sesekali diselingi rerumputan liar yang mulai mengambil alih ruang yang ditinggalkan air.
Setiap langkah menghadirkan rasa ingin tahu baru. Jalan kaki rupanya bukan sekadar berpindah tempat. Ia membuat kami memperlambat langkah, memberi waktu untuk mengamati, bertanya, dan memahami.

Di sela-sela retakan tanah, si bungsu tiba-tiba berhenti.
“Yah… ini ada ikan mati!”
Seekor ikan kecil mengering di bawah terik matahari. Sisiknya masih tampak berkilau.
“Kasihan ya…”
Aku mengangguk.
“Iya. Saat air menyusut, sebagian ikan sempat pindah ke bagian waduk yang lebih dalam. Tapi ada juga yang terjebak di kubangan kecil. Ketika air habis dan oksigen di air semakin sedikit, mereka tidak bisa bertahan.”
Anak-anak kembali berjalan. Tak lama kemudian pertanyaan lain muncul.
“Yah, kalau kering gini ke mana ikannya?”
“Waduk itu seperti mangkuk besar,” jelasku. “Air terakhir akan berkumpul di bagian yang paling dalam. Di sanalah ikan biasanya bertahan sampai hujan datang lagi.”
Tak ada ruang kelas. Tak ada papan tulis. Namun sore itu, dasar waduk berubah menjadi laboratorium alam yang terbuka.

Perjalanan berlanjut menuju sekumpulan pohon besar di tengah waduk. Saat musim hujan, tempat itu tampak seperti pulau kecil yang terapung di tengah air. Kini kami bisa berdiri tepat di bawahnya.
Udara mendadak berubah.
“Yah… kok di sini sejuk?”
Aku menunjuk ke arah tajuk pohon.
“Karena pohon seperti payung besar. Daunnya menahan sinar matahari. Selain itu, daun juga melepaskan uap air yang membuat udara di sekitarnya lebih dingin. Makanya di bawah pohon terasa lebih nyaman. Ilmuwan menyebutnya iklim mikro.”
“Ooo…”
Belum selesai mengangguk, pertanyaan berikutnya muncul.
“Kenapa rumput di sekitar pohon masih hijau?”
“Akar pohon mengambil air dari dalam tanah. Di bawah pohon juga lebih lembap karena matahari tidak langsung menyinari tanah. Jadi tanaman di sekitarnya masih mendapat cukup air.”
Anak-anak memandang sekeliling. Benar saja. Di luar gundukan, tanah tampak cokelat dan pecah-pecah. Di sekitar pohon, rerumputan masih hijau.
Mereka tidak sekadar mendengar penjelasan. Mereka melihat buktinya.
Tiba-tiba terdengar suara parau dari atas.
Puluhan burung kuntul memenuhi ranting-ranting. Tanah di bawahnya memutih oleh kotoran burung yang menumpuk selama bertahun-tahun.
“Itu putih semua apa, Yah?”
“Itu kotoran kuntul. Pohon ini tempat mereka beristirahat setelah mencari makan.”
Anak keduaku yang hobi fotografi mulai sibuk mengatur kamera. Cahaya senja perlahan menguning. Siluet ranting-ranting mulai membentuk garis-garis indah.
Begitu kami mendekat beberapa langkah lagi…
Fruuushhh…
Puluhan kuntul terbang bersamaan.
Langit senja seolah dipenuhi kelopak-kelopak putih yang beterbangan.
“Waaah…”
Anak-anak spontan berlari mengejar arah terbang burung-burung itu.
Yang paling semangat justru si bungsu. Padahal beberapa hari sebelumnya ia baru menjalani khitan dan belum benar-benar pulih.
“Heh… pelan-pelan!”
Ia hanya tertawa.
“Seru ini ya, Yah. Ini yang paling seru sih.”
Aku bertanya, “Seru kenapa?”
“Soalnya bisa lihat langsung. Lebih enak daripada cuma baca buku.”
Aku tersenyum.

Barangkali inilah keistimewaan berjalan kaki. Ketika kita berjalan, kita memberi kesempatan kepada alam untuk berbicara. Hal-hal kecil yang biasanya luput ketika melintas dengan kendaraan menjadi terlihat. Retakan tanah, jejak burung, bangkai ikan, udara yang berubah sejuk di bawah pohon, hingga suara kepakan sayap saat kawanan kuntul terbang—semuanya menjadi bagian dari pelajaran yang tidak tertulis.
Dalam tradisi keilmuan Islam dikenal tiga tingkatan keyakinan.
Pertama, ’ilmul yaqin, mengetahui sesuatu melalui penjelasan atau bacaan. Anak-anak membaca bahwa pohon membuat udara lebih sejuk atau ikan akan berkumpul di bagian terdalam waduk.
Kedua, ’ainul yaqin, ketika mata menyaksikan sendiri kenyataan itu. Mereka melihat tanah retak, ikan yang mati, pohon yang tetap hijau, dan burung-burung yang menjadikan pepohonan sebagai rumah singgah.
Dan yang paling dalam adalah haqqul yaqin, ketika pengetahuan itu benar-benar dialami. Saat kaki menginjak tanah yang pecah, kulit merasakan kesejukan di bawah rindang pohon, telinga mendengar suara kuntul, dan hati memahami bahwa alam bekerja dengan hukum-hukum yang saling terhubung.
Matahari akhirnya tenggelam. Anak keduaku masih memotret siluet pohon dan burung yang kembali satu per satu ke sarangnya. Kami pun melangkah pulang, meninggalkan dasar waduk yang perlahan diselimuti cahaya temaram.

Sore itu kami memang hanya berjalan beberapa kilometer. Tidak ada puncak gunung yang ditaklukkan, tidak ada rekor jarak yang dipecahkan. Namun perjalanan pendek itu memberi hadiah yang jauh lebih berharga: tubuh menjadi lebih sehat karena bergerak, pikiran diperkaya oleh pengetahuan, dan hati diingatkan bahwa setiap langkah di alam selalu menyimpan pelajaran. Mungkin itulah hakikat walking yang sesungguhnya. Bukan mengejar tujuan secepat-cepatnya, melainkan membuka mata bahwa bumi selalu memiliki cerita bagi siapa pun yang bersedia berjalan cukup pelan untuk mendengarkannya. (*)
