Walking Indonesia – Kabut dinihari masih menggantung ketika langkah pertama menapaki lereng timur Gunung Agung pulau Bali. Cahaya headlamp memantul di rumpun ilalang yang menjulang setinggi dada orang dewasa.
Embun menempel di ujung daun, membasahi celana dan jaket sejak beberapa ratus meter pertama. Jalur ini bukan jalur pendakian yang lazim. Tak ada papan penunjuk arah, tak ada warung, tak ada rombongan pendaki yang saling berpapasan.
Yang ada hanya jalan setapak bekas program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Unda Anyar, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Sebuah papan proyek yang mulai robek diterpa angin masih berdiri di tepi jalur. Tulisannya nyaris hilang dimakan cuaca. Dari sisa huruf yang terbaca, terpampang proyek rehabilitasi hutan tahun anggaran 2020 di Munduk Kedampal, wilayah Resort Pengelolaan Hutan Abang, Kabupaten Karangasem.
Program itu menanam kembali kawasan hutan dengan jenis kayu seperti ampupu dan cemara, serta tanaman hasil hutan bukan kayu berupa nangka dan alpukat. Kini papan itu lebih menyerupai penanda waktu: alam perlahan mengambil kembali apa yang pernah dibangun manusia.

Perjalanan dimulai dari salah satu desa terakhir di kaki timur Gunung Agung, wilayah Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem. Desa-desa di lereng timur hidup dari pertanian lahan kering, kebun salak, jagung, dan sebagian menjadi pemandu pendakian. Dari sinilah masyarakat lokal mengantar rombongan memasuki jalur yang jarang dipilih pendaki.
Jalur RHL memang berbeda. Ia bukan jalur wisata, melainkan jalur kerja yang dahulu dibuka untuk memulihkan kawasan hutan. Karena jarang dilewati, ilalang tumbuh liar hingga lebih dari satu meter. Beberapa bagian bahkan menutup sepenuhnya bekas jalan.

Yang paling merepotkan justru bukan tanjakan.
Melainkan semak berduri yang oleh warga setempat sering disebut duri brahmana. Nama lokal itu umumnya merujuk pada perdu berduri dari kelompok rotan kecil atau tumbuhan berduri yang tumbuh rapat di hutan kering Bali. Duri-durinya melengkung tajam, mudah menyangkut celana, sarung tangan, bahkan ransel. Hampir setiap beberapa langkah terdengar bunyi sobekan kecil ketika ranting berduri menarik kain. Jalan menjadi lambat. Kadang pemandu harus lebih dulu membabat semak dengan parang agar rombongan bisa lewat.
Di bawah sorot headlamp, hutan perlahan berubah wajah. Vegetasi bawah didominasi ilalang, kirinyuh, pakis dan semak belukar. Semakin tinggi, tegakan cemara gunung mulai mendominasi bersama ampupu (Eucalyptus urophylla), kesambi, serta aneka perdu pegunungan. Lumut menggantung di batang pohon yang lebih tua, sementara anggrek liar sesekali menempel di cabang-cabang besar.
Suara kehidupan justru lebih ramai daripada yang terlihat.
Dari kejauhan terdengar kicau burung hutan. Sesekali burung pergam melintas cepat. Pada pagi hari, beberapa jenis burung madu, kipasan, hingga elang dapat dijumpai berputar di langit lereng timur. Kawasan Taman Hutan Raya dan hutan lindung Gunung Agung juga menjadi habitat kijang, babi hutan, musang, biawak, hingga berbagai jenis reptil dan serangga pegunungan. Sebagian besar memilih menghindari manusia.

Pendakian kali ini benar-benar tektok. Tidak ada tenda di dalam carrier. Isinya hanya jaket tebal, kupluk, sarung tangan, jas hujan, headlamp, air minum, makanan, obat-obatan, dan logistik secukupnya. Setiap gram beban diperhitungkan.
Ketika rasa kantuk datang, rombongan tak mencari area berkemah. Cukup mencari tanah yang agak datar di tepi jalur. Duduk bersandar pada batu atau batang pohon, memejamkan mata lima belas hingga dua puluh menit. Setelah tubuh terasa sedikit pulih, perjalanan dilanjutkan lagi. Tidur dicicil sepanjang perjalanan.

Gunung Agung memang menuntut kesabaran.
Dengan ketinggian 3.031 meter di atas permukaan laut, gunung tertinggi di Bali itu memiliki beberapa jalur pendakian yang dikenal masyarakat. Jalur Besakih merupakan rute paling populer menuju puncak utama. Jalur Pura Pasar Agung lebih pendek menuju puncak selatan. Selain itu terdapat jalur timur melalui Desa Dukuh dan sejumlah jalur lama yang digunakan masyarakat adat maupun petugas kehutanan, termasuk jalur rehabilitasi hutan yang kini nyaris terlupakan.
Menjelang puncak timur, vegetasi mulai menipis. Angin bertiup tanpa penghalang. Matahari perlahan mengangkat bayangan Pulau Lombok dari balik cakrawala. Di bawah sana, Selat Lombok tampak seperti lembaran kaca yang memantulkan cahaya keemasan.
“Di timur itu gunung Rinjani. Rinjani itu cantik, gunung Agung itu berwibawa,” kata Pak Nyoman yang membersamai kami sesaat setelah matahari terbit.

Dari sisi timur inilah Gunung Agung memperlihatkan wajahnya yang paling sunyi.
Tak ada keramaian pendaki.
Tak ada antrean berfoto.
Yang terdengar hanya embusan angin dan napas sendiri.
Perjalanan yang dimulai dinihari itu baru benar-benar berakhir ketika dinihari berikutnya kembali menyapa. Sekitar dua puluh empat jam tubuh terus bergerak, berhenti hanya untuk minum, makan, atau mencuri tidur beberapa menit. Kaki terasa berat, tetapi hati justru menjadi ringan.
Mungkin itulah hadiah terbesar dari sebuah pendakian.

Gunung tidak pernah meminta manusia menaklukkannya. Gunung hanya menyediakan jalan, sementara manusialah yang sering tergoda untuk merasa menjadi pemenang.
Jalur RHL di lereng timur Gunung Agung mengajarkan hal yang berbeda: bahwa memulihkan hutan ternyata tidak kalah mulia dibanding mencapai puncak.
Sebab, setinggi apa pun seseorang berdiri di atas gunung, pada akhirnya ia tetap akan turun, kembali menjadi pejalan yang hidupnya bergantung pada hutan yang tetap hijau.
