Temukan Gunung Agung setelah Susuri Pantai Berkerikil Jemeluk

Beberapa langkah pertama membuatku sadar bahwa Jemeluk bukan pantai dengan pasir lembut yang menghampar seperti tepung, melainkan didominasi kerikil dan batu-batu kecil berwarna gelap.

Ariyanto
8 Min Read
Ariyanto

Walking Indonesia – Sore itu aku sebenarnya tidak sedang mencari tempat wisata.

Aku hanya ingin keluar sebentar dari hotel. Mencari udara segar. Setelah cukup lama berada di kamar, rasanya kaki perlu diajak berjalan.

Aku bertanya kepada petugas hotel.

“Pantai yang dekat dari sini di mana?”

“Jemeluk,” katanya. “Tidak jauh.”

Aku pun keluar.

Tidak ada rencana berapa jauh harus berjalan. Tidak ada tujuan harus sampai di mana. Aku hanya ingin menggerakkan kaki.

Ketika tiba di pantai, matahari masih cukup tinggi. Langit belum berubah warna. Aku kemudian memilih berjalan menyusuri bibir pantai ke arah barat.

Beberapa langkah pertama membuatku sadar bahwa Jemeluk bukan pantai dengan pasir lembut yang menghampar seperti tepung.

Pantainya didominasi kerikil dan batu-batu kecil berwarna gelap.

Batu-batu itu memenuhi hampir seluruh tepian pantai. Bentuknya bulat dan lonjong, sebagian seukuran kelereng, sebagian lebih besar. Warnanya hitam, abu-abu tua, hingga kehitaman mengilap ketika terkena cahaya. Tidak banyak pasir halus yang terlihat.

Setiap langkah menghasilkan bunyi kecil.

Kres… kres…

Telapak kaki seperti sedang berjalan di atas ribuan potongan sejarah geologi.

Material vulkanik dari kawasan Gunung Agung menjadi bagian penting dari karakter pesisir Amed dan Jemeluk. Ombak kemudian bekerja dalam waktu yang panjang, menggeser, mengikis dan membulatkan batu-batu itu.

Karena itu, pantai Jemeluk dalam foto sore itu tidak terlihat seperti pantai tropis yang biasa muncul dalam kartu pos.

Tidak putih.

Tidak lembut.

Melainkan gelap, kasar dan sangat vulkanik.

Dan justru di situlah keunikannya.

Aku terus berjalan.

Saat itu hanya ada satu wisatawan yang melintas. Kami sempat bertegur sapa.

“Jalan-jalan?” tanyaku.

“Yes,” jawabnya sambil tersenyum.

“Sendirian?”

Ia mengangguk.

Kami kemudian melanjutkan langkah masing-masing.

Aku berjalan ke arah barat. Semakin jauh meninggalkan hotel, sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat mulai muncul.

Gunung.

Aku berhenti.

Di hadapanku berdiri sebuah gunung besar dengan bentuk yang nyaris sempurna. Lerengnya turun perlahan menuju kawasan pesisir. Puncaknya terlihat jelas di bawah langit yang mulai berubah warna.

Aku memperhatikan beberapa saat.

“Jangan-jangan Gunung Agung.”

Aku bertanya kepada warga yang kebetulan berada di sekitar pantai.

“Pak, itu Gunung Agung?”

“Iya,” jawabnya.

Benar.

Itu Gunung Agung.

Aku kembali menatapnya.

Entah mengapa, bibirku langsung basah oleh zikir.

“Allahu Akbar…”

Lalu,

“Subhanallah…”

Indah sekali.

Ada sesuatu yang sulit diterangkan ketika melihat gunung sebesar itu muncul tiba-tiba di depan mata, sementara kaki sedang berdiri di atas hamparan batu hitam dan laut terbentang di sebelah kanan.

Aku merasa kecil.

Sangat kecil.

Gunung itu diam. Laut bergerak. Aku berjalan. Matahari perlahan turun.

Tiga hal yang sama-sama bergerak dalam waktu yang berbeda.

Aku melanjutkan perjalanan.

Jalur pantai kemudian membuat arah langkahku semakin ke barat dan menyerong ke barat daya. Dari sudut yang berbeda, Gunung Agung semakin gagah. Tubuhnya terlihat utuh, dengan lereng yang turun menuju dataran di bawahnya.

Seorang pejalan kaki tampak kecil di tengah hamparan batu. Manusia hanya setitik kecil di hadapan lanskap. Gunung menguasai hampir seluruh cakrawala. Laut membentang di sisi kanan. Pantai berbatu memenuhi bagian depan. Langit sore perlahan berubah dari biru menjadi kuning keemasan.

Cahaya matahari yang rendah membuat permukaan laut seperti lembaran logam tipis. Garis pantainya melengkung mengikuti teluk. Di kejauhan tampak beberapa tonjolan perbukitan yang membuat lanskap semakin berlapis.

Aku terus berjalan.

Tidak terasa.

Awalnya hanya ingin mencari udara segar. Setelah berjalan lebih dari satu jam, aku bahkan tidak lagi memikirkan berapa kilometer yang sudah ditempuh.

Yang kupikirkan hanya masih ingin berjalan.

Di beberapa bagian pantai, aku melihat warga setempat. Ada anak-anak bermain pasir dan batu. Ada ayunan. Mereka berlarian di ruang terbuka yang bagi wisatawan mungkin menjadi tempat mengambil foto, tetapi bagi warga setempat merupakan bagian dari halaman kehidupan sehari-hari.

Sesekali terlihat wisatawan asing.

Tidak ramai.

Tidak gaduh.

Jemeluk seperti memiliki volume suara sendiri.

Pelan.

Yang menarik dari pantai ini adalah kontrasnya.

Di satu sisi ada Gunung Agung yang besar dan kokoh. Di sisi lain ada laut yang terus bergerak. Di antara keduanya terdapat kampung, hotel, vila, restoran, perahu nelayan dan manusia yang datang untuk berlibur.

Namun pantainya sendiri tetap mempertahankan wajah vulkaniknya.

Aku kembali melihat ke bawah.

Batu-batu hitam memenuhi pantai sejauh mata memandang.

Ada yang bulat sempurna. Ada yang masih menyudut. Ada yang berwarna abu-abu. Ada pula yang tampak hitam pekat. Ukurannya tidak seragam.

Aku membayangkan perjalanan batu-batu itu.

Mungkin berasal dari material vulkanik. Hancur oleh waktu. Dibawa air. Dilempar ombak. Bergesekan satu sama lain. Berulang-ulang selama bertahun-tahun.

Sampai akhirnya menjadi seperti yang kulihat sore itu.

Batu-batu kecil yang diam di bawah kaki.

Di situlah berjalan kaki menjadi menarik.

Kalau aku hanya datang dengan kendaraan, turun, mengambil gambar Gunung Agung, lalu pergi, mungkin Jemeluk hanya akan menjadi satu lagi destinasi dalam daftar perjalanan.

Tetapi dengan berjalan, aku melihat lebih banyak.

Aku merasakan permukaan batu.

Mendengar suara langkah.

Melihat anak-anak bermain.

Berjumpa dengan seorang wisatawan yang juga berjalan sendirian.

Menyaksikan perubahan cahaya.

Dan kemudian melihat Gunung Agung muncul perlahan dari balik lanskap.

Jarak membuat gunung itu terlihat semakin besar.

Waktu membuat senja semakin indah.

Dan langkah membuatku semakin jauh dari hotel—sekaligus semakin dekat kepada pengalaman.

Dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, kawasan Amed dan Jemeluk dapat ditempuh sekitar 2,5–3 jam menggunakan mobil, tergantung kondisi lalu lintas. Pilihan paling praktis adalah mobil sewaan atau kendaraan dengan sopir. Sepeda motor juga bisa digunakan bagi yang terbiasa menempuh perjalanan jauh.

Begitu sampai di kawasan Jemeluk, pengalaman terbaik justru tidak selalu harus dimulai dari snorkeling atau naik perahu.

Cobalah berjalan.

Berjalanlah mengikuti garis pantai.

Biarkan kaki menentukan jarak.

Sebab Jemeluk punya sesuatu yang tidak selalu terlihat ketika kita terburu-buru: pantai berbatu hitam, kehidupan kampung, laut, cahaya senja dan Gunung Agung yang tiba-tiba muncul seperti kejutan.

Sore semakin tua.

Langit dalam foto itu sudah berubah menjadi kuning keemasan. Gunung Agung menjadi siluet. Laut di sebelahnya memantulkan cahaya terakhir matahari.

Aku berdiri cukup lama.

Kemudian teringat perjalanan yang dimulai dengan niat sangat sederhana: keluar hotel mencari udara segar.

Ternyata Allah memberi lebih dari sekadar udara.

Memberi gunung.

Memberi laut.

Memberi senja.

Memberi langkah.

Dan memberi kesempatan untuk menyadari betapa kecilnya manusia di hadapan ciptaan-Nya.

Aku kembali berzikir pelan.

“Subhanallah.”

Mungkin memang begitulah perjalanan yang baik.

Kita berangkat membawa tujuan, tetapi kadang pulang membawa kesadaran.

Sebab berjalan bukan hanya tentang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Berjalan adalah cara memberi kesempatan kepada mata untuk melihat, kaki untuk merasakan, dan hati untuk menemukan makna. (*)

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *