Kembali Berjalan di UI: Hutan, Danau, dan Ingatan yang Pulang

UI bukan hanya tempat untuk kuliah. Ia bisa menjadi ruang untuk berjalan, berolahraga, berekreasi, belajar tentang alam dan mengenal kebudayaan.

Ariyanto
11 Min Read
Ariyanto

Walking Indonesia – Minggu pagi itu aku dan Pak Djoko Widardjo turun dari KRL di Stasiun Universitas Indonesia.

Tidak ada perkuliahan.

Tidak ada mahasiswa yang bergegas mengejar kelas.

Sebaliknya, kawasan kampus justru ramai oleh keluarga, anak-anak, pelari, pesepeda dan orang-orang yang ingin menikmati pagi. Ada pula BTN UI Green Marathon yang membuat suasana semakin hidup.

Pak Djoko, yang usianya sudah kepala tujuh, langsung melihat ke arah pepohonan di depan stasiun.

“Wah, ini keren,” katanya.

Ini pengalaman pertamanya jalan kaki menyusuri hutan kota UI.

Usiaku dan Pak Djoko terpaut 20 tahun. Namun, kami cocok sebagai kawan diskusi, punya selera sama sebagai sesama pejalan kaki, dan sering atur waktu bertemu meski beda profesi.

Pagi itu kami tidak sedang mengejar target. Tidak mengejar kecepatan.
Tidak mengejar jumlah langkah.

Kami hanya ingin berjalan.

Sekitar dua setengah jam kemudian, jarak yang kami tempuh kira-kira lima kilometer.

Lambat?

Memang.

Tetapi justru di situlah kenikmatannya.

Cara berjalan kami pagi itu lebih dekat dengan gagasan Thich Nhat Hanh dalam “How to Walk”: berjalan bukan untuk buru-buru sampai, melainkan hadir pada setiap langkah. Dalam salah satu ajarannya, ia mengatakan, “Kita akan berjalan tanpa memikirkan untuk sampai di mana pun.”

Aku teringat kalimat itu ketika berjalan bersama Pak Djoko.

Kami tidak sedang berlomba.

Kami sedang menikmati perjalanan.

Begitu keluar dari stasiun, kawasan hijau UI langsung menyambut.

Bagi pejalan kaki, akses seperti ini menyenangkan sekali.

Turun dari KRL, beberapa langkah kemudian sudah berada di kawasan hutan.

Tidak perlu kendaraan.

Tidak perlu mencari parkir.

Tinggal berjalan.

Kami menyusuri pedestrian di bawah pepohonan rindang. Udara terasa lebih sejuk. Cahaya matahari masuk melalui celah tajuk pohon. Sesekali terdengar suara burung.

Pak Djoko berjalan santai di sampingku.

“UI memang keren. Punya hutan kota, danau, pedestrian yang bagus,” katanya.

Aku tersenyum.

Memang begitu.

Hutan Kota UI memiliki luas sekitar 90 hektare. Kawasan ini bukan sekadar ruang hijau kampus, tetapi juga memiliki fungsi ekologis, pendidikan, penelitian dan konservasi.

UI mencatat sedikitnya 104 jenis tumbuhan dan 56 jenis burung di kawasan Hutan Kota UI.

Dulu aku datang ke tempat ini sebagai mahasiswa Filsafat UI.

Salah satu hal yang membuatku tertarik kuliah di sini justru hutan kotanya.

Aku memang sejak dulu senang suasana alam.

Ada sesuatu yang membuat pikiran lebih lapang ketika membaca buku atau memikirkan sesuatu di antara pepohonan.

Dulu aku datang untuk kuliah.

Sekarang aku kembali untuk berjalan.

Dan anehnya, hutan ini masih memberikan rasa yang sama.

Kami terus berjalan.

Pak Djoko tidak terburu-buru.

Frédéric Gros, dalam “A Philosophy of Walking”, mengingatkan bahwa berjalan adalah cara untuk memperlambat diri. Ia menyebut berjalan sebagai cara terbaik untuk pergi lebih lambat dibanding cara lain.

Aku merasa Pak Djoko sedang mempraktikkan gagasan itu tanpa banyak teori.

Ia berjalan.

Melihat.

Berhenti.

Berbicara.

Berjalan lagi.

Kadang mengambil foto.

Kadang hanya melihat pepohonan.

Aku jadi teringat salah satu gagasan
Thich Nhat Hanh: ketika berjalan, kita tidak perlu terus mengejar tujuan; setiap langkah bisa menjadi tempat kita “tiba”.

Mungkin itu sebabnya dua setengah jam terasa sebentar.

Setelah berjalan beberapa waktu, pepohonan mulai terbuka.

Danau Kenanga muncul.

Airnya hijau dan tenang. Pepohonan mengitari tepian. Angin bergerak pelan.

Luas Danau Kenanga sekitar 2,8 hektare.

Namanya berasal dari pohon kenanga yang tumbuh di kawasan tersebut.

Kami berjalan menyusuri tepinya.

Di pinggir danau ada kafe. Minggu pagi seperti itu suasananya ramai. Keluarga duduk bersama. Anak-anak bermain. Anak muda berbincang sambil menikmati minuman.

Danau menjadi latar yang sangat instagramable.

Air yang hijau.

Pepohonan.

Langit.

Bangunan kampus.

Semuanya seperti sudah tersusun.

Tetapi aku justru lebih tertarik melihat orang-orang yang datang ke sini.

Ada keluarga yang tidak sedang mengejar olahraga.

Ada anak-anak yang hanya ingin bermain.

Ada orang tua yang berjalan santai.

Ada pelari yang sedang menyelesaikan rute.

Ada orang yang duduk memandangi danau.

Ruang hijau seperti ini membuat orang bergerak tanpa merasa sedang berolahraga.

Menjelang tengah hari, ketika sebagian kota mulai terasa seperti dipanggang matahari, kawasan Danau Kenanga masih terasa adem. Ini bukan kebetulan. Pohon-pohon di tepian danau bekerja seperti payung raksasa.

Daunnya menghalangi radiasi matahari, sementara air yang menguap dari danau dan vegetasi mengambil sebagian energi panas dari lingkungan. Air danau sendiri tidak cepat panas karena memiliki kapasitas panas yang tinggi. Sesekali angin bergerak dari permukaan air ke tepian, membawa rasa sejuk ke jalur pedestrian di bawah pepohonan.

Di sinilah hutan kota dan danau bekerja sebagai satu ekosistem mikro. Bukan hanya indah untuk difoto, tetapi juga membantu menciptakan ruang yang lebih nyaman bagi manusia.

Mungkin itu sebabnya berjalan di UI menjelang tengah hari pun masih terasa menyenangkan. Kita sedang berjalan di dalam sebuah mesin pendingin alami yang dibuat oleh pepohonan, air dan angin.

Kami melanjutkan perjalanan menuju Perpustakaan UI.

Bangunannya ikonik, modern, dan berada dalam lanskap hijau. Perpustakaan yang dikenal sebagai The Crystal of Knowledge ini seperti mempertemukan pengetahuan dengan alam.

Aku teringat masa kuliah.

Dulu aku datang membawa buku.

Sekarang datang memakai sepatu jalan.

Tetapi keduanya punya kesamaan: sama-sama mengajakku berhenti dan memperhatikan.

Tidak jauh dari sana terdapat Masjid Ukhuwah Islamiyah UI.

Masjid di pinggir kawasan danau dan ruang terbuka itu menjadi bagian menarik dari perjalanan.

Ada tempat untuk berjalan.

Ada tempat untuk membaca.

Ada tempat untuk beribadah.

Ada tempat untuk duduk.

Semua berada dalam satu lanskap.

Kami kemudian berjalan menuju kawasan pusat kampus.

Ada Balairung, salah satu bangunan penting untuk kegiatan seremonial dan akademik UI.

Gedung Rektorat berada di bangunan tersendiri dan menjadi pusat administrasi universitas.

Minggu pagi seperti itu, suasana kawasan pusat kampus relatif tenang.

Kami tidak perlu terburu-buru.

Tidak ada jadwal kuliah yang harus dikejar.

Tidak ada rapat.

Tidak ada target.

Hanya langkah.

Dari sana kami menuju Danau Mahoni.

Jembatan Teksas membentang di atas danau, menghubungkan kawasan Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Budaya.

Nama Teksas berasal dari Teknik dan Sastra.

Aku dan Pak Djoko berjalan ke tengah jembatan.

Air Danau Mahoni terlihat hijau.

Pepohonan mengitari tepian.

Angin terasa lebih bebas.

Pak Djoko berhenti untuk memotret.

Aku ikut berhenti.

Kami melihat keluarga yang berjalan, pelari yang melintas dan orang-orang yang berfoto.

Dari jembatan itu, lanskap UI seperti terbuka seluruhnya: air, pohon, bangunan dan manusia.

“Jembatan Teksas ini dibangun agar mahasiswi FIB tak perlu jalan jauh memutar kalau mau pacaran dengan mahasiswa Teknik,” candaku.

“Ah itu karangan Mas Ari aja,” kata Pak Djoko.

Kami kemudian masuk ke kawasan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya.

Bagian ini punya hubungan personal denganku.

Dulu aku kuliah Filsafat UI.

Sekarang aku kembali sebagai pejalan kaki.

Di FIB terdapat berbagai jejak kebudayaan dan arkeologi: arca, patung, artefak, representasi Candi Jawi, serta berbagai objek dan jejak penelitian arkeologi.

Ada pula patung Multatuli. Aku berhenti dan berfoto di depannya.

Multatuli adalah nama pena Eduard Douwes Dekker, penulis Max Havelaar, yang dikenal karena kritiknya terhadap ketidakadilan kolonial di Hindia Belanda.

Pak Djoko ikut memperhatikan.

“Kalau begini, jalan-jalan di UI dapat alam dan budaya sekaligus,” katanya.

Aku mengangguk.

Itulah yang menarik.

Kami memulai perjalanan dari hutan, kemudian melihat danau, perpustakaan, masjid, jembatan, lalu masuk ke ruang kebudayaan.

Di satu sisi ada pohon dan burung.

Di sisi lain ada arca, candi dan Multatuli.

Jalan kaki berubah menjadi perjalanan melintasi ruang sekaligus waktu.

Pedestrian yang Masih Bisa Disambungkan

Setelah beberapa kilometer, aku mulai melihat satu hal yang menurutku penting.

Menurutku, UI sudah memiliki modal luar biasa untuk menjadi salah satu kawasan jalan kaki terbaik di Indonesia.

Hutan kota.

Enam danau.

Pedestrian.

Jogging track.

Pepohonan rindang.

Perpustakaan.

Masjid.

Bangunan ikonik.

Dan kekayaan budaya di FIB.

Tetapi jalurnya masih bisa dibuat lebih terintegrasi. Terutama koneksi antardanau.

Enam danau UI sesungguhnya sudah terhubung secara ekologis melalui sistem tata air. Tantangannya adalah bagaimana konektivitas itu diterjemahkan menjadi konektivitas bagi manusia. Jalur pedestrian dan jogging track antardanau masih perlu diperkuat agar keenam danau—Kenanga, Agathis, Mahoni, Puspa, Ulin dan Salam—dapat dinikmati sebagai satu jaringan perjalanan kaki.

Bayangkan jika seseorang bisa berjalan dari Danau Kenanga menuju Agathis, Mahoni, Puspa, Ulin hingga Salam dengan jalur yang jelas, teduh dan tidak terputus. Enam danau yang selama ini terhubung oleh air, sekaligus terhubung oleh langkah manusia.

Dengan begitu, pedestrian bukan sekadar fasilitas untuk berpindah.

Ia menjadi jalur interpretasi.

Orang berjalan sambil belajar.

Berjalan sambil mengenal alam.

Berjalan sambil mengenal budaya.

Berjalan sambil mengenal sejarah.

UI bukan hanya tempat untuk kuliah. Ia bisa menjadi ruang untuk berjalan, berolahraga, berekreasi, belajar tentang alam dan mengenal kebudayaan.

Dan ketika semua itu dilakukan dengan berjalan kaki, kita mendapatkan sesuatu yang tidak selalu bisa diperoleh dari kendaraan.

Kita menjadi lebih dekat dengan tempat.

Lebih dekat dengan orang.

Lebih dekat dengan pohon.

Lebih dekat dengan air.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, lebih dekat dengan diri sendiri. (*)

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *