Walking Indonesia – Sore itu angin dari pegunungan berembus pelan. Dingin, tapi bukan dingin yang menggigit. Justru segar, seolah baru saja melewati ribuan pohon cemara di lereng Tengger.
Aku berdiri di bibir Jembatan Kaca Seruni Point.
Di depanku, lantai kaca membentang lurus menuju seberang jurang. Transparan. Bening. Nyaris tak terlihat. Yang terlihat justru jurang di bawahnya.
Delapan puluh meter.
Lumayan untuk membuat keberanian mendadak turun beberapa tingkat.
“Silakan masuk, Pak. Jangan lari ya,” kata petugas sambil tersenyum.
Aku mengangguk. Langkah pertama terasa ringan. Langkah kedua mulai aneh. Begitu mata tanpa sengaja menatap lurus ke bawah, lutut seperti lupa cara bekerja.
Di bawah sana pepohonan tampak mengecil. Tebing hijau jatuh tegak ke dasar lembah. Angin yang tadi terasa bersahabat mendadak seperti sengaja menggoda keseimbangan tubuh.
Aku berhenti.
Seorang bapak yang baru masuk dari belakang ikut berhenti.
“Kok macet?” katanya sambil tertawa.
“Saya lagi negosiasi sama kaki,” jawabku.
Ia terkekeh.
Tak jauh di depan terdengar percakapan yang membuat semua orang ikut tersenyum.
“Kok jalannya kayak orang sunat gitu?” goda seorang pria kepada kawannya yang melangkah kecil-kecil.
Kawannya tak menjawab. Matanya terus menatap lantai kaca.
“Lihat ke bawah, Bro. Dalamnya 80 meter. Kalau kacanya pecah gimana?”
Seorang petugas yang mendengar percakapan itu langsung menimpali.
“Tenang saja, Pak. Kacanya bukan kaca etalase. Sudah dirancang dengan baik. Aman. Yang pecah biasanya rasa percaya dirinya duluan.”
Gelak tawa langsung pecah.
Seorang ibu menimpali sambil menggandeng suaminya.
“Mas, kalau aku pingsan jangan difoto dulu ya.”
Suaminya cepat menjawab.
“Ya enggaklah… videoin dulu.”
Semua kembali tertawa.
Suasana yang semula tegang berubah cair. Rupanya rasa takut memang paling mudah dikalahkan oleh humor.

Jembatan Kaca Seruni Point kini menjadi ikon baru Bromo. Orang datang ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru bukan hanya untuk menyaksikan matahari terbit dari Penanjakan, menyusuri Lautan Pasir, mendaki bibir kawah Bromo, berkuda, atau menikmati hamparan Bukit Teletubbies. Kini ada satu pengalaman baru yang membuat adrenalin ikut menjadi bagian dari perjalanan: berjalan di atas kaca yang menggantung di atas jurang.
Jembatan ini membentang sekitar 150 meter dan menghubungkan kawasan Rest Area Seruni Point dengan area pandang di sisi seberang lembah. Lebar lintasan sekitar 1,8 meter sehingga dua orang masih bisa berjalan berpapasan dengan nyaman. Di bawahnya menganga jurang sedalam kurang lebih 80 meter. Lantai jembatan menggunakan kaca laminated tempered glass dengan ketebalan sekitar 2,5 sentimeter yang disusun berlapis dan diperkuat struktur baja gantung. Seluruh konstruksinya dirancang untuk menahan beban jauh di atas kapasitas pengunjung sehingga keamanan menjadi prioritas utama.
Mengetahui spesifikasi itu memang membuat pikiranku lebih tenang.
Tetapi rasa takut rupanya tidak selalu tunduk pada angka-angka.
Ia lebih sering dikendalikan oleh imajinasi.
Aku sengaja datang menjelang matahari terbenam.
Menurutku, inilah waktu paling indah menikmati Seruni Point.
Sedikit demi sedikit cahaya matahari berubah keemasan.
Gunung Batok yang semula hijau kecokelatan berubah menjadi jingga.
Gunung Bromo tampak gagah dengan kepulan asap putih yang terus keluar dari kawahnya.
Jauh di belakangnya berdiri Gunung Semeru, gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa sekaligus tertinggi ketiga di Indonesia. Dari kawah Jonggring Saloko, asap solfatara terus mengepul perlahan ke langit, seperti napas panjang bumi yang tak pernah berhenti.
Lautan Pasir Bromo ikut berubah warna. Hamparan abu vulkanik yang siang tadi kusam kini memantulkan cahaya jingga, membuat seluruh kaldera seperti diselimuti emas tipis.
Angin membawa aroma tanah vulkanik yang khas.
Segar.
Sunyi.
Sesekali hanya terdengar suara kamera berbunyi, tawa anak-anak, dan decak kagum pengunjung.
Tak ada yang benar-benar ingin cepat pulang.
Semakin lama berjalan, rasa takut perlahan menghilang.
Aku mulai berani berhenti di tengah jembatan.
Menoleh ke kanan.
Menoleh ke kiri.
Lalu menatap lurus ke depan.
Pemandangan yang terbuka nyaris tanpa batas.

Dari beberapa jembatan kaca yang pernah kucoba di berbagai daerah di Indonesia, menurutku inilah yang memiliki panorama paling lengkap dan paling dramatis.
Dalam satu putaran kepala, mata bisa menyapu Gunung Bromo, Batok, kaldera Tengger, Lautan Pasir, hingga Gunung Semeru yang mengepulkan asap dari kawah Jonggring Saloko.
Sulit mencari komposisi lanskap seindah ini.
Mencapai Seruni Point juga relatif mudah. Dari Kota Probolinggo, perjalanan menuju gerbang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru melalui Kecamatan Sukapura memakan waktu sekitar satu setengah hingga dua jam. Dari pintu masuk kawasan, kendaraan dapat langsung menuju kawasan Seruni Point yang telah dilengkapi area parkir.
Pilihan menginap sangat beragam. Di Desa Cemoro Lawang terdapat banyak homestay, hotel, hingga penginapan keluarga dengan berbagai kelas harga. Restoran dan warung makan pun mudah ditemukan, mulai warung masakan Tengger, kedai kopi, hingga restoran hotel yang menghadap pegunungan.
Untuk menikmati jembatan kaca, pengunjung perlu membayar tiket masuk kawasan TNBTS dan tiket khusus atraksi jembatan sesuai tarif yang berlaku. Datanglah menjelang sore jika ingin menikmati panorama matahari terbenam yang menurutku jauh lebih tenang dibanding keramaian saat berburu matahari terbit.
Namun sehebat apa pun bangunan ini, bintang utamanya tetaplah alam.
Jembatan kaca hanyalah cara baru menikmati lanskap yang telah diciptakan jauh sebelum manusia mengenal baja dan beton.
Karena itu, setiap langkah di sini juga membawa tanggung jawab. Jangan membuang sampah, jangan merusak fasilitas, jangan mencoret-coret pagar, dan hormatilah seluruh aturan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Kawasan konservasi ini adalah rumah bagi ekosistem pegunungan yang harus diwariskan tetap utuh kepada generasi berikutnya.
Saat meninggalkan Seruni Point, aku kembali menoleh ke belakang.
Matahari hampir tenggelam.
Jembatan kaca itu memantulkan warna langit yang mulai memerah.
Aku tersenyum sendiri.
Ternyata rasa takut tidak selalu harus dihilangkan. Kadang ia cukup dipahami. Ketika akal menerima bahwa semuanya telah dirancang dengan matang, rasa takut perlahan berubah menjadi kewaspadaan. Dan dari kewaspadaan itulah lahir keberanian.
Barangkali hidup memang demikian.
Bukan tentang seberapa dalam jurang yang terbentang di bawah kaki, melainkan seberapa besar keyakinan untuk tetap melangkah. Sebab sering kali yang paling menakutkan bukanlah jurang di depan mata, melainkan keraguan yang diam-diam kita pelihara di dalam kepala. (*)
