Walking Indonesia – Perjalanan menuju Kawah Ijen tak selalu harus dimulai dini hari. Justru, berangkat lebih awal pada sore hari memberi pengalaman yang lebih utuh. Bukan hanya mengejar blue fire, tetapi juga menyaksikan dua pertunjukan alam dalam satu malam: matahari terbenam di bibir kawah dan api biru yang menyala di dasar kaldera.
WalkingIndonesia.com memulai perjalanan dari Pos Paltuding sekitar pukul 16.00 WIB. Jalur sepanjang 3,2 kilometer menuju bibir kawah ditempuh dengan berjalan kaki selama sekitar dua jam. Tidak menggunakan troli atau gerobak yang disewakan untuk mengangkut wisatawan. Di gunung, setiap langkah adalah bagian dari perjalanan itu sendiri.
Tanjakan awal menjadi pemanasan yang cukup menguras napas. Jalurnya berupa jalan tanah berbatu yang terus menanjak, namun cukup lebar. Di kiri-kanan, hutan pegunungan dengan cemara gunung, cantigi, dan semak-semak khas dataran tinggi menjadi teman perjalanan. Menjelang petang, udara mulai turun hingga sekitar 10 derajat Celsius. Langit perlahan berubah jingga, lalu merah keemasan.

Sesampainya di bibir kawah menjelang pukul enam petang, langkah seolah berhenti dengan sendirinya. Matahari tenggelam perlahan di balik pegunungan Ijen, sementara permukaan danau kawah memantulkan warna langit yang terus berubah. Dari ketinggian, kawah tampak seperti mangkuk raksasa dengan air berwarna hijau toska. Senja di Ijen menghadirkan jeda yang sulit ditemukan di tempat lain.
Ketika gelap mulai turun, suasana berubah sunyi. Lampu-lampu kepala mulai menyala satu per satu. Setelah menikmati matahari terbenam dan beristirahat sejenak, perjalanan dilanjutkan menuruni lereng menuju dasar kawah.
Inilah bagian paling menantang. Jalur sepanjang sekitar 700 meter itu curam, dipenuhi batuan vulkanik lepas, dan pada beberapa titik licin oleh debu belerang. Setiap langkah harus benar-benar diperhitungkan. Aroma belerang semakin tajam. Masker respirator menjadi perlengkapan yang wajib dikenakan, bukan sekadar pelengkap.

Di dasar kawah, nyala biru mulai terlihat jelas. Api itu muncul dari gas belerang bersuhu sangat tinggi yang keluar melalui rekahan batuan, lalu terbakar saat bersentuhan dengan oksigen. Fenomena inilah yang dikenal sebagai blue fire, salah satu yang paling langka di dunia.
Malam di dasar kawah terasa berbeda. Cahaya biru menari di antara kepulan asap, sementara para penambang belerang tetap bekerja seperti malam-malam sebelumnya, memikul bongkahan belerang puluhan kilogram menyusuri jalur yang sama.
Sekitar pukul 01.00 dini hari, WalkingIndonesia.com kembali naik menuju bibir kawah. Waktu itu dipilih bukan tanpa alasan. Menjelang dini hari, arus pendaki yang baru datang dari Paltuding mulai ramai turun ke dasar kawah untuk mengejar blue fire sebelum fajar. Jalur yang sempit akan jauh lebih nyaman jika sudah berada di atas sebelum gelombang pengunjung tiba.
Dari bibir kawah, langit mulai dipenuhi bintang. Tak lama kemudian, garis cahaya pertama muncul di ufuk timur. Danau kawah seluas sekitar 41 hektare itu perlahan kembali memperlihatkan warna hijau toskanya. Asap putih terus mengepul dari dasar kaldera, sementara Gunung Ijen mengungkap wajahnya yang sama sekali berbeda dibanding beberapa jam sebelumnya.
Bekal menuju Kawah Ijen bukan hanya fisik yang prima. Sepatu trekking yang nyaman, jaket tebal, senter kepala beserta baterai cadangan, sarung tangan, penutup kepala, tongkat trekking, air minum, makanan ringan berenergi, jas hujan, serta masker respirator menjadi perlengkapan yang tak boleh tertinggal.
Akses menuju Paltuding relatif mudah. Dari Bandara Banyuwangi, perjalanan darat memakan waktu sekitar 1,5–2 jam. Dari Stasiun Banyuwangi Kota (Karangasem) sekitar 1,5 jam, sedangkan dari Pelabuhan Ketapang sekitar 2 jam. Sebagian besar wisatawan memilih menginap di Kecamatan Licin, kawasan yang hanya berjarak sekitar 30–45 menit dari Paltuding, atau di pusat Kota Banyuwangi yang menyediakan lebih banyak pilihan hotel.
Di Kawah Ijen, keindahan tidak datang sekaligus. Ia hadir bergantian: senja yang perlahan padam, malam yang diterangi api biru, lalu fajar yang menghidupkan kembali warna danau. Semuanya hanya bisa dinikmati oleh mereka yang memilih berjalan, memberi waktu bagi alam untuk bercerita, dan bersabar menunggu setiap babaknya berganti.
