Walking Indonesia – Puncak bukan satu-satunya alasan orang datang ke Rinjani, gunung berapi tertinggi di Indonesia. Di balik dinding kaldera raksasa itu, tersimpan sebuah danau vulkanis yang membuat perjalanan panjang terasa sepadan.
Namanya Segara Anak. Airnya membiru seperti laut, meski berada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut.
Perjalanan menuju Segara Anak dimulai dari Desa Sembalun (1.150 mdpl), pintu masuk paling populer menuju Rinjani. Dari Bandara Internasional Lombok, perjalanan darat menuju Sembalun memakan waktu sekitar 3–3,5 jam melalui Praya, Aikmel, dan Selong.
Dari Pelabuhan Lembar, waktunya sekitar 4–5 jam, sedangkan dari Pelabuhan Bangsal sekitar 2 jam. Jalan beraspal mulus membelah sawah, kebun bawang, dan perkampungan masyarakat Sasak sebelum berakhir di kaki Rinjani.
Registrasi dilakukan di Balai Taman Nasional Gunung Rinjani. Setelah itu perjalanan benar-benar dimulai.

Langkah pertama melintasi padang savana Sembalun yang luas. Rumput ilalang bergoyang ditiup angin, sementara Gunung Rinjani menjulang semakin dekat di depan mata. Jalur awal relatif landai, tetapi panjang. Matahari menjadi tantangan utama karena pepohonan masih jarang.
Pendaki melewati Pos 1 Pemantauan, Pos 2 Tengengean, Pos 3 Pada Balong, sebelum tiba di Pos 4 Plawangan Sembalun. Total jaraknya sekitar 10,5 kilometer, dengan waktu tempuh rata-rata 7–9 jam.
Semakin tinggi, vegetasi berubah. Edelweis mulai bermunculan di lereng-lereng terbuka. Cemara gunung mendominasi kawasan yang lebih lembap. Burung pergam, elang, cekakak, hingga monyet ekor panjang sesekali terlihat di sepanjang jalur. Jika beruntung, rusa timor dapat dijumpai merumput di padang sabana pada pagi atau sore hari.
Bagian paling menguras tenaga justru menjelang Plawangan Sembalun. Tanjakan panjang tanpa bonus itu memaksa langkah melambat. Jalurnya berupa pasir vulkanik dan tanah berbatu dengan kemiringan yang terus meningkat. Dari punggungan ini, kaldera Rinjani tiba-tiba membuka diri.
Di bawah sana terbentang Danau Segara Anak.
Turunan menuju danau membutuhkan kehati-hatian. Kemiringannya tajam dengan permukaan berbatu dan berpasir. Trekking sekitar dua hingga tiga jam itu menjadi ujian bagi lutut, meski pemandangan kaldera yang terus membentang membuat rasa lelah mudah terlupakan.
Segara Anak merupakan danau kaldera seluas sekitar 11 kilometer persegi, dengan panjang sekitar 3,7 kilometer dan lebar sekitar 2,7 kilometer. Airnya berwarna biru kehijauan sehingga masyarakat Sasak menamakannya Segara Anak—anak laut—karena warnanya menyerupai lautan.
Di tengah danau berdiri Gunung Barujari, kerucut gunung api muda yang lahir dari letusan di dalam kaldera Rinjani. Asap tipis masih kerap terlihat mengepul dari kawahnya, mengingatkan bahwa bentang alam ini belum benar-benar selesai dibentuk oleh bumi. Di tepian danau, sumber air panas alami mengalir dari lereng, menjadi tempat favorit pendaki merendam kaki setelah perjalanan panjang.
Pagi di Segara Anak nyaris tanpa suara. Kabut tipis menggantung di atas permukaan air. Pantulan tebing kaldera membentuk cermin raksasa. Angin hanya sesekali memecah permukaan danau yang tenang. Di tempat ini, waktu seperti melambat.
Tak banyak aktivitas yang diperlukan. Duduk di tepian danau, memancing, mengamati burung, menikmati matahari terbit, atau sekadar memandangi Barujari yang mengepul sudah cukup membuat perjalanan terasa utuh.
Bekal menuju Segara Anak bukan hanya tenda, makanan, dan fisik yang prima. Sepatu trekking yang sudah teruji, tongkat pendakian, jaket untuk suhu malam yang bisa turun hingga sekitar 5–10 derajat Celsius, jas hujan, senter kepala, pelindung matahari, obat pribadi, emergency blanket, power bank, botol minum yang dapat diisi ulang, serta kantong untuk membawa turun seluruh sampah menjadi perlengkapan yang tak kalah penting. Gunung Rinjani menerapkan prinsip bawa turun kembali apa pun yang dibawa naik.
Perjalanan dari Sembalun menuju Segara Anak memakan waktu sekitar 10–12 jam berjalan, umumnya dibagi dalam dua hari dengan bermalam di Plawangan Sembalun. Sebagian pendaki melanjutkan ke puncak Rinjani, sebagian lagi memilih berhenti di tepian danau.
Pilihan terakhir itu sama sekali bukan bentuk menyerah. Sebab, di Segara Anak, Rinjani telah menunjukkan salah satu wajahnya yang paling indah. Tidak semua perjalanan gunung harus berakhir di puncak. Ada kalanya, tujuan terbaik justru berada di dasar kaldera, ketika langit, air, dan gunung bertemu dalam satu lanskap yang sulit dilupakan.
