Walking Indonesia – Sebagian besar orang berjalan untuk tiba. Dari rumah ke kantor, dari stasiun ke peron, dari satu rapat ke rapat berikutnya. Jalan kaki menjadi sekadar perpindahan. Di situlah How to Walk karya Thich Nhat Hanh mengajukan pertanyaan sederhana namun mengganggu: bagaimana jika tujuan sesungguhnya bukanlah tempat yang dituju, melainkan langkah itu sendiri?
Buku setebal sekitar 120 halaman ini tidak menawarkan teknik berjalan yang rumit. Thich Nhat Hanh justru mengajak pembaca memperlambat ritme, menyelaraskan langkah dengan napas, lalu menyadari bahwa setiap pijakan adalah kesempatan untuk benar-benar hadir. Berjalan bukan lagi aktivitas mekanis, melainkan latihan batin yang bisa dilakukan di trotoar kota, lorong kantor, atau jalan setapak di tengah hutan. Buku ini merupakan bagian dari seri Mindfulness Essentials yang memperkenalkan praktik kesadaran penuh dalam kehidupan sehari-hari. (Penguin Random House)
Kekuatan buku ini terletak pada kesederhanaannya. Thich Nhat Hanh tidak menggurui. Ia bercerita, memberi contoh, lalu membiarkan pembaca menemukan makna dari pengalaman berjalan itu sendiri. Gagasannya terasa relevan di tengah dunia yang memuja kecepatan. Ketika semua orang berlomba menjadi yang tercepat, ia justru mengingatkan bahwa hidup bisa terlewat jika kaki terus berlari sementara hati tertinggal.
Bagi pejalan kaki, pendaki, maupun siapa saja yang gemar menjelajah kota, How to Walk bukan sekadar buku tentang berjalan. Ia adalah pengingat bahwa bumi bukan hanya permukaan yang diinjak, melainkan sahabat yang disentuh dengan penuh hormat. Dan mungkin, setelah menutup halaman terakhir, pembaca akan menyadari bahwa perjalanan paling jauh bukanlah yang ditempuh oleh kaki, melainkan oleh kesadaran.