Di Situ Lembang, Jakarta Belajar Melambat

Admin
5 Min Read

Aku memulai langkah dari tepian Taman Situ Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, dekat rumah buku ikonik mirip rumah burung. Di tengah kota yang nyaris tak pernah kehabisan alasan untuk berlari, tempat seluas 14.700 meter persegi ini justru mengajarkan sebaliknya: melambat!

Jalan kaki ternyata bukan sekadar menggerakkan kaki dari satu titik ke titik lain. Ia adalah perjalanan pulang menuju diri sendiri.

Relatif mudah mencapai Taman Situ Lembang. Bisa naik Transjakarta rute Kampung Melayu-Bundaran Senayan, turun di Halte Taman Suropati, lalu jalan kaki sekitar 5 menit.

Bisa juga naik Transjakarta rute Tanah Abang-Kampung Melayu via Cikini, turun di halte Cik Ditiro, lalu jalan kaki sekitar 5 menit. Alternatif lain naik KRL turun di Stasiun Cikini, lalu jalan kaki sekitar 10 menit.

Cluster jalan yang mengitari Situ Lembang menjadi kawasan konservasi keheningan. Akses masuk danau yang dibangun pemerintah kolonial Belanda pada 1926 itu hanya melalui Jalan Lembang dari sisi Jalan Syamsu Rizal. Ada pun sisi Jalan Mohammad Yamin dan Jalan Teuku Umar diportal.

Kendaraan bermotor memang masih ada, tetapi tidak mendominasi. Tak terdengar deru mesin yang saling berpacu, tak ada klakson yang berebut ruang, tak ada bau asap knalpot yang menyesakkan dada. Jakarta, untuk sesaat, seperti menarik napas panjang. Pusat kota mendadak memiliki jeda.

Di jeda itulah pikiranku ikut melambat.

Suara yang biasanya tenggelam oleh hiruk-pikuk mulai terdengar satu per satu. Kicau burung bersahutan dari balik pepohonan raksasa dan langka seperti mahoni, flamboyan, ketapang, tabebuya, beringin, salam, bintaro, dan angsana.

Dedaunan bergemerisik ketika angin menyapa. Air danau beriak pelan. Sesekali suara angsa memecah kesunyian, bukan sebagai gangguan, melainkan penanda bahwa alam masih punya hak untuk didengar.

Aku menyadari, mungkin yang paling dibutuhkan manusia modern bukan selalu tempat baru untuk berlibur, melainkan ruang untuk kembali mendengarkan suara hatinya sendiri.

Di sepanjang lintasan jogging track dan pedestrian, kehidupan berjalan dengan ritmenya masing-masing.

Ada yang berjalan kaki sambil menggandeng anjing kesayangan. Ada pasangan muda yang mendorong kereta bayi. Ada pengasuh menuntun majikannya yang sepuh.

Ada sepasang suami-istri yang asyik bercengkerama sambil menikmati gemericik kehangatan sinar mentari pagi. Ada celoteh anak-anak yang bermain di playground. Dan ada pula seorang pejalan yang berhenti memberi makan kucing.

Di bangku taman, seorang perempuan larut membaca buku. Beberapa anak muda sibuk memotret. Ada yang berolahraga di area gym terbuka, ada yang menulis jurnal, ada yang tidur di tepi danau, ada yang gelar tikar duduk melingkar bersama keluarga sambil sarapan, dan ada pula yang sekadar duduk menikmati pagi tanpa merasa harus melakukan apa-apa.

Semuanya tampak sederhana, tetapi justru di situlah letak kemewahannya.

Perhatianku lalu tertuju kepada sekelompok bapak dan ibu lansia. Hampir setiap pagi mereka datang dengan disiplin yang mengagumkan. Mereka senam bersama, tertawa bersama, diiringi lagu-lagu ceria, bahkan lagu “Lagi Syantik” milik Siti Badriah terdengar mengalun.

Tak ada rasa canggung. Tak ada beban untuk terlihat sempurna. Yang ada hanya kebahagiaan yang lahir dari kebersamaan.

Tak jauh dari sana, komunitas pejalan kaki mengitari kawasan Lembang dengan seragam sama. Langkah mereka serempak, tetapi wajah-wajah mereka tidak sedang berlomba. Mereka saling menyapa, berbagi cerita, bercanda, dan tertawa.

Ada pula yang memilih berjalan sambil menuntun sepeda, ada yang mengayuh pelan mengelilingi danau, seolah tahu bahwa hidup tidak selalu harus dikayuh sekencang mungkin.

Aku kemudian bertanya kepada diriku sendiri: kapan terakhir kali aku benar-benar berjalan tanpa tergesa? Berjalan bukan untuk mengejar sesuatu, melainkan untuk menikmati sesuatu.

Mungkin, healing bukan tentang pergi sejauh-jauhnya dari kota. Healing adalah ketika kita menemukan ruang yang membuat hati kembali tenang, meski masih berada di jantung ibu kota.

Di salah satu taman kota tertua dan bersejarah di Jakarta ini mengingatkanku bahwa hidup bukan hanya soal seberapa cepat kita sampai. Kadang, makna justru ditemukan ketika langkah diperlambat.

Sebab hati memiliki ritme yang berbeda dengan jam. Ia baru bisa berbicara ketika kebisingan berhenti mengambil alih.

Dan pagi itu, sambil terus melangkah mengitari danau, aku merasa Jakarta sedang berbisik pelan kepadaku: tidak semua perjalanan harus dipercepat. Ada yang memang diciptakan untuk dinikmati, selangkah demi selangkah. (*)

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *