Walking Indonesia – Pagi belum benar-benar terbangun ketika langkah-langkah itu mulai terdengar di jalan-jalan kecil dalam sebuah klaster perumahan di kawasan Buaran, Jakarta Timur. Udara masih menyimpan sisa embun. Cahaya matahari baru mengusap pucuk-pucuk pepohonan.
Di saat sebagian orang masih menarik selimut, Galumbang C. Sitinjak sudah menapaki lintasan paginya dengan langkah mantap, dengan sedikit tergesa dan terkadang slow jogging biar ada hentakan tubuh yang diyakini bagus buat jantung.
Bagi auditor senior sekaligus Ketua Ikatan Lemhanas Sport itu, jalan kaki bukan lagi sekadar olahraga. Ia telah menjelma menjadi cara hidup.
“Saya rajin jalan kaki sejak pasang ring pada 2022,” kata Galumbang sambil tersenyum.
Keputusan itu lahir dari kesadaran sederhana: tubuh perlu dirawat sebelum terlambat. Sejak saat itu, hampir tak ada pagi yang dilewatkan tanpa berjalan kaki. Ia biasanya berjalan sendirian mengelilingi kawasan perumahan. Sesekali rutenya melebar hingga menyusuri jalan raya ketika suasana masih lengang. Tidak ada perlengkapan mahal atau pakaian khusus.
“Yang penting nyaman di badan dan sepatunya enak, empuk.”
Lima belas menit pertama menjadi penanda tubuh mulai bekerja. Keringat mengucur dari dahi. Napas menjadi lebih panjang, tetapi justru di situlah ia merasa hidup.
Aktivitas itu ternyata baru pembuka hari.
Perjalanan menuju kantor pun menjadi bagian dari ritual berjalan. Dari rumah menuju halte TransJakarta sekitar sepuluh menit. Setibanya di stasiun KRL, ia kembali berjalan, naik dan turun tangga peron yang tak sedikit jumlahnya. Setelah turun dari kereta, langkah kembali berlanjut menuju kantor sekitar dua puluh menit. Jika dihitung pulang-pergi, waktu berjalan kaki yang ia tempuh setiap hari mencapai sekitar satu jam.
Tanpa disadari, akumulasi langkahnya melampaui 10 ribu langkah setiap hari.
Jam tangan pintarnya mencatat lebih dari 600 kalori terbakar dalam sehari. Angka-angka itu bukan untuk dipamerkan, melainkan menjadi pengingat bahwa tubuh memang diciptakan untuk bergerak.
Hasilnya ia rasakan sendiri.
“Dulu saya sering merasa dada seperti ditusuk-tusuk karena ada sumbatan. Sejak rutin jalan kaki, keluhan itu tidak ada lagi.”
Pengalaman pribadi itu membuatnya semakin yakin bahwa kesehatan tidak selalu dimulai dari ruang perawatan rumah sakit, melainkan dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan setiap hari secara konsisten.
Baginya, berjalan kaki juga merupakan bagian dari peradaban modern.
“Ini gaya hidup sehat di negara maju, bukan karena miskin lalu naik transportasi publik. Apalagi sekarang dunia menghadapi krisis energi. Dengan jalan kaki dan naik transportasi publik kita bisa menghemat bahan bakar.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan pesan yang lebih besar. Setiap langkah bukan hanya menjaga kesehatan pribadi, melainkan juga mengurangi jejak karbon, menekan konsumsi bahan bakar, dan memberi ruang agar kota bernapas sedikit lebih lega.
Di perjalanan pulang, langkah-langkah itu kadang tak lagi sendiri. Rekan-rekan sekantor yang sama-sama menyukai jalan kaki ikut menemani. Percakapan mengalir ringan di sela trotoar Jakarta. Perjalanan yang mungkin dianggap melelahkan oleh sebagian orang justru berubah menjadi ruang bersosialisasi sekaligus pelepas penat setelah bekerja.
Berbagai penelitian medis menunjukkan bahwa berjalan kaki secara rutin membantu menjaga kesehatan jantung, menurunkan tekanan darah, memperbaiki kadar gula darah, meningkatkan kolesterol baik (HDL), mengurangi risiko stroke dan penyakit jantung koroner, memperkuat otot dan tulang, menjaga berat badan, memperbaiki kualitas tidur, hingga menurunkan tingkat stres dan kecemasan. Aktivitas aerobik ringan ini juga merangsang pelepasan endorfin yang membuat suasana hati lebih baik dan membantu menjaga fungsi otak seiring bertambahnya usia.
Galumbang yang usianya sudah kepala enam mungkin tidak sedang mengejar rekor olahraga. Ia hanya sedang memelihara kebiasaan yang perlahan mengubah hidupnya. Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang serba cepat, ia memilih menikmati kota dengan langkah-langkah yang teratur.
Sebab, bagi Galumbang, kesehatan bukanlah tujuan yang dicapai dalam semalam. Ia dibangun setiap hari, satu langkah demi satu langkah. (art)
